Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 29 Desember 2011

cara belajar editing video

MENJADI SUTRADARA DENGAN BERMODALKAN PC

Share

Era gambar diam sudah berlalu. Sebuah foto hanya dapat memberikan satu gambar dengan banyak kemungkinan makna, namun sebuah video memberikan banyak gambar dengan makna yang lebih jelas.

Setiap hari kita menyaksikan berbagai acara televisi yang berupa video. Berbagai game dan media hiburan seperti VCD/DVD juga merupakan hal yang hampir setiap hari dapat dijumpai dengan mudah. Semuanyadidominasi oleh tayangan video. Bisa dikatakan, hidup kita tidak biasterpisahkan dari hal yang dinamakan video. Pada artikel kali ini, CHIP akan membahas dasar-dasar video, mulai dari jenis-jenis koneksi dan card yang dapat digunakan, spesifikasi komputer yang tepat, serta diakhiri dengan review singkat beberapa card video editing.

video: Perlu diketahui sebelum melangkah lebih jauh
Sebelum melangkah lebih lanjut, tentu Anda harus memahami sedikit tentang dasar dasar video digital. Hal ini penting, agar nantinya Anda tidak akan kesulitan dalam memahami istilah teknis dalam dunia video. Saat pertama kali diperkenalkan, sebuah video sudah sangat menarik perhatian para pengguna komputer. Walaupun pada saat itu, video yang ditampilkan masih beresolusi rendah. Beberapa game juga mulai menggunakan animasi video sederhana. Diperlukan komputer yang cukup cepat dan memiliki fasilitas multimedia untuk memainkan video dengan baik pada saat itu. Video full screen masih merupakan impian. Seiring dengan peningkatan teknologi dan kecepatan peripheral PC, softwaredecoding yang semakin ditingkatkan kemampuannya, maka sebuah video full screen mulai dapat dinikmati oleh banyak pengguna PC. Video yang ada masih dibagi lagi berdasarkan jenis format dan kompresi yang digunakan. Masing-masing format ini menggunakan cara penyimpananyang berbeda, sehingga membutuhkan sesuatu yang disebut sebagai decoder. Decoder dibutuhkan agar format video tersebut dapat dimainkan dengan baik. Sebuah video yang di-encode dengan menggunakan encoder “A”, akan membutuhkan decoder yang mendukung format “A” juga, agar video tersebut dapat dimainkan dengan baik. Adadua format file video yang popular hingga saat ini, yaitu AVI dan MPEG. Beberapa format video lain juga cukup banyak ditemui, namun karena beberapa keterbatasan, CHIP hanya akan membahas dua format ini.

Format AVI: Klasik namun masih tetap populer
Format AVI (Audio Video Interlaced) merupakan salah satu format video tertua dan terpopuler dalam sejarah video di PC. Format ini diciptakan oleh Microsoft dan populer bersamaan dengan Windows 3.1. Versi awal dari format AVI ini hanya mendukung resolusi 160x120 dan kecepatan playback 15 fps. Angka ini sangat minim dibandingkan dengan kualitas video yang ada pada saat ini. Format ini juga sangat populer dan menjadi dasar dari berbagai algoritma kompresi video. Masih banyak format Kompresi
yang menggunakan file AVI sebagai output-nya. Dukungan terhadap format AVI juga masih sangat banyak, baik secara software maupun hardware.

Format MPEG: Mempertahankan kualitas dengan minimalitas
MPEG yang merupakan singkatan dari Motion Picture Experts Groups, merupakan organisasi internasional yang mengembangkan standar untuk kompresi video. Ada beberapa format MPEG yang cukup populer. MPEG-1 merupakan standar pertama yang dirilis sekitar tahun 1993. Format MPEG-1 ini diharapkan dapat menyajikan kualitas audio dan video yang memadai, tetapi menggunakan bandwith yang rendah, antara 1-1.5 Mbps (Megabits bukan MegaBytes). Resolusi yang ditawarkan yaitu 352x288, akhirnya menjadi standar umum Video CD. Format MPEG-2 yang dirilis sekitar dua tahun kemudian, memiliki spesifikasi yang mirip. Hanya saja, MPEG-2 mengijinkan bandwith yang lebih besar, sampai sekitar 100 Mbps. MPEG-2 juga mendukung variable bit rate, sehingga lebih efisien dalam beberapa pengunaan. Resolusi pada MPEG-2 lebih tinggi yaitu 720x576 (PAL) dan 640x480 (NTSC). Bandwith yang lebih besar ini menjadikan MPEG-2 lebih populer untuk kalangan profesional, dibandingkan dengan pengguna biasa. DVD, TV digital, dan studio profesional, merupakan contoh dari penggunaan format MPEG-2. Contoh nyata dari MPEG-1 dan MPEG-2 yang dapat ditemui dengan mudah adalah pada VCD dan SVCD/DVD. VCD yang menggunakan format MPEG- 1 memang memiliki kualitas yang cukup baik. Namun, jika dibandingkan dengan DVD, Anda pasti akan merasakan perbedaan yang sangat nyata. Jika Anda memainkannya di komputer, coba gunakan mode full screen. Dengan mudah, Anda akan dapat membedakan antara VCD dan DVD. SVCD dan DVD mampu menghadirkan kualitas dan ketajaman gambar yang jauh lebih baik. MPEG-2 juga menjanjikan kualitas audio surround yang lebih baik, seperti yang biasa dijumpai pada DVD.

MPEG-4: Fenomena video masa depan
Format yang termasuk paling baru dan populer saat ini adalah MPEG-4. Format ini menjanjikan video berkualitas dengan bandwith rendah. Adacukup banyak peningkatan yang pada format MPEG-4 ini. Salah satu yang termasuk menarik adalah kemampuan proses setiap gambar menjadi objek yang terpisah. Artinya, setiap objek ini dapat diproses tanpa harus terpengaruh oleh objek lain. Kelebihan ini menjadikan MPEG-4 populer untuk streaming video baik di Internet maupun untuk video di komunitas mobile (PDA dan ponsel). Data yang dikirim via Internet biasanya akan dipecah menjadi paket-paket berukuran kecil. Paket ini akan dating secara tidak berurutan, sesuai dengan kondisi traffic di Internet, sehingga tidak mampu ditangani dengan format video biasa. Kemampuan MPEG-4 untuk menangani objek gambar secara terpisah menghadirkan solusi untuk masalah ini.Di masa depan, format MPEG-4 diramalkan akan populer di ponsel dan peranti portable lainnya. Beberapa produsen ponsel yang mulai memasuki dunia 3G (di mana sebuah ponsel dapat menampilkan steraming audio dan video), telah mengimplementasikan chip decoding MPEG-4 untuk menangani masalah streaming video di ponselnya.

M-JPEG: Lebih populer di card video editing
Format lain yang biasanya digunakan pada card video editing adalah M-JPEG. Motion Joint Picture Experts Group (MJPEG) merupakan modifikasi dari format gambar JPEG untuk digunakan sebagai format kompresi video. Prinsip kerjanya relatif sederhana, format M-JPEG menganalogikan video sebagai kumpulan gambar JPEG. Selanjutnya, gambar akan dikompresi dengan cara yang kurang lebih sama dengan kompresi JPEG biasa. Format JPEG memang memiliki rasio kompresi yang sangat baik, walaupun harus dibayar dengan menurunnya kualitas gambar. Hal yang serupa terjadi juga pada MJEPG. Format ini menjanjikan rasio kompresi sampai 1:5. M-JPEG tidak menerapkan standar untuk sinkronisasi audio dengan video, sehingga para pembuat card editing harus membuat implementasi mereka sendiri.

Kompresi: Very Important Person
Kompresi merupakan hal yang sangat penting dalam era digital. Cobalah merekam musik ke dalam format uncompressed WAV dan bandingkan ukurannya dengan format terkompresi seperti MP3 ataupun WMA. Ukuran format terkompresi tentu sangat kecil, dengan perbedaan kualitas yang tidak terlalu signifikan bagi kebanyakan orang. Hal ini juga berlaku untuk video. Cobalah merekam video dari sumber seperti VHS, Betacam, ataupun camcorder ke dalam format uncompressed AVI. Anda akan mendapatkan ukuran file yang sangat besar untuk film berdurasi singkat. Bagaimana cara membuat video berdurasi satu jam ke dalam sebuah CD berukuran 640 MB. Jawabannya adalah dengan kompresi. Kompresi akan bertanggung jawab atas pemilihan bagianbagian data yang akan dihilangkan.

Metode kompresi: Dua cara yang saling berlawanan
Ada dua jenis metode kompresi yang digunakan. Metode pertama dikenal dengan nama lossless compression, sedangkan metode kedua dikenal dengan nama lossy compression. Lossless compression adalah metode kompresi dimana data yang dikompres tidak akan mengalami perubahan setelah di-dekompresi. Secara mudah dapat digambarkan bahwa metode lossless tidak akan menghilangkan satu bit pun dari sumber aslinya. Penerapan dari metode lossless adalah pada format kompresi file (ZIP, ARJ, ACE, RAR dan lainnya). File asli dengan file setelah dikompres tidak akan mengalami perbedaan. Kelemahan dari metode ini adalah rasio kompresi yang relatif kecil, karena metode ini tidak menghilangkan informasi yang ada, melainkan hanya mengoptimalkan penyimpanan informasi. Metode lossy compression adalah ke- balikan dari metode lossless. Lossy compression akan menghilangkan bagianbagian yang dianggap kurang atau tidak perlu dari sumber asli. Banyaknya data yang dihilangkan sangat bergantung dari besarnya rasio kompresi yang diinginkan. Konsekuensinya, semakin banyak data yang dihilangkan akan semakin menurunkan kualitas. Contoh penggunaan metode lossy adalah pada format kompresi audio seperti MP3 dan WMA. File hasil kompresi akan berukuran lebih kecil karena ada bagian informasi dari file asli yang dihilangkan, dengan anggapan informasi tersebut kurang perlu.

GOP: Tiga sekawan yang sulit terpisahkan
Format MPEG-1 mengharuskan setiap frame berukuran sama dengan mengatur tingkat kompresi yang dilakukan pada tiap frame. Selain itu, dilakukan juga kompresi pada setiap perbedaan yang terjadi antara dua frame.Metode ini dikenal dengan interframe compression. Intinya, kita dapat menghilangkan bagian yang terjadi secara berulang-ulang. Jadi, yang akan diproses adalah bagian yang mengalami perubahan saja. Proses dimulai dari sebuah frame yang dikompres. Frame ini akan menjadireference frame yang disebut sebagai I-Frame (Intra Coded Frame). Kemudian, diambil frame kedua dan dikompres. Kedua frame ini kemudian dibandingkan. Bagian yang sama akan dibuang, sementara bagian yang mengalami perubahan akan dijadikan sebagai P-Frame (Predictive Coded Frame). Proses ini akan berlangsung terus menerus dan berulangulang, sampai suatu saat akan ditemukan kesalahan dan proses harus dimulai dari awal dengan memasukkan I-Frame baru. Algoritma lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi adalah dengan menempatkan frame tambahan yang populer dengan sebutan B-Frame (Bidirectionally Interpolated Frame). BFrame ini akan membandingkan perbedaan yang terjadi pada frame di depan ataupun di belakangnya. Kumpulan dari I-Frame, P-Frame, dan B-Frame ini dikenal dengan GOP (Group of Pictures). Struktur IBP dari format MPEG-1 dan MPEG-2 tidak memungkinkan sebuah video untuk diproses sebelum GOP secara lengkap diterima. Ini menjadikan format MPEG-1 dan MPEG-2 tidak cocok digunakan untuk streaming di Internet. Proses transfer data di Internet yang menggunakan paket-paket,memungkinkan paket yang dikirim untuk diterima secara tidak berurutan. Keterlambatan penerimaan salah satu paket yang berisi frame IBP dapat menjadikan GOP tidak lengkap, sehingga video tidak dapat diproses. MPEG-4 kemudian hadir untuk mengatasi masalah ini.

Persiapan untuk memulai video editing
Iklan yang ada maupun brosur yang disediakan pada card editing memang sangat menggiurkan. Mereka menjanjikan kemudahan proses transfer video dari berbagai sumber ke PC dalam satudua langkah sederhana. Video yang telah diproses dapat segera dibakar ke CD ataupun dikirim via e-mail. Memang tampaknya semuanya dapat dilakukan dengan mudah, namun sebenarnya proses yang akan Anda lakukan tidakSemudah itu. Pertama kali, Anda harus melihat kecepatan komputer Anda. PC yang lambat akan dengan mudah menyiksa Anda. Frame yang drop, sampai sistem yang hang, merupakan sedikit dari rintangan yang harus Anda hadapi sebelum dapat menyaksikan hasil kerja Anda. Anda akan dihadapkan pula oleh banyaknya jenis card editing yang tersedia. Jenis-jenis konektor analog dan digital pun bias menjadikan Anda harus mempelajari manual, layaknya anak kecil yang baru belajar membaca.

NLE: Melahirkan sutradara baru bermodalkan PC
Proses editing video menggunakan PC dikenal dengan sebutan Non Linear Editing (NLE). NLE adalah konsep di mana Anda dapat melakukan editing secara non-linear (tidak berurutan).Anda dapat dengan mudah memotong scene di menit ke-60 dan memindahkannya ke menit 33, kemudian menambahkan efek di menit ke-21 dan memotong video dari menit ke 19-40. Sebelum menggunakan PC, semua hal tersebut harus dilakukan secara manual dengan memotong-motong pita film, menyambung,melukis efek, dan berbagai kegiatan lainnya. Hal tersebut sangatlah rumit. Hanya orang yang berpengalaman sajalah yang mampu melakukannya. Hadirnya PC dan konsep NLE telah menghadirkan era baru dalam dunia video editing. Setiap orang dapat menjadi sutradara hanya dengan bermodalkan sebuah camcorder, PC dengan konfigurasi yang memadai, card editing, dan tentu saja kreativitas.

Hardware: Spesifikasi yang tepat, menjadikan kerja lebih nikmat
Anda harus memiliki PC yang cukup cepat untuk melakukan proses video editing. Prosesor minimal 1 GHz dan memori 256 MB merupakan syarat minimal. Memang, beberapa card editing hanya mensyaratkan prosesor 700 MHz. Hal tersebut tidaklah salah, namun kinerja dari card itu sendiri tidak akan optimal. Untuk mendapatkan kinerja maksimal, siapkanlah prosesor dan memori yang lebih besar. Teknologi hard disk memang telah mengalami peningkatan yang signifikan, terutama untuk hard disk IDE. Hard disk IDE terbaru telah mendukung interface ATA-100/133 dan kecepatan putaran sampai 7200 RPM. Ini lebih dari cukup untuk sekedar melakukan capturing video. Hard disk terbaru juga ada yang dibuat khusus untuk kebutuhan audio video, dikenal dengan nama ‘AV Drives’. Hard disk jenis ini memiliki kelebihan dalam masalah thermal recalibration. Thermal recalibration adalah suatu proses yang umum terjadi pada hard disk, dimana hard disk akan melakukan kalibrasi pada saat tertentu. Proses kalibrasi ini berlangsung dengan sangat cepat untuk dirasakan, namun kadang bisa mengganggu proses kerja Anda dengan menghasilkan dropped frames. Hard disk SCSI yang lebih mahal memang menjanjikan kinerja yang lebih baik, serta kemampuan ekspansi yang lebih banyak. Namun, berdasarkan uji coba CHIP, kinerja hard disk IDE biasa juga masih masih cukup memadai. Pemilihan monitor juga sangat penting. CHIP merasakan bahwa bekerja dengan video dan timeline, akan menjadi sangat menyenangkan dengan monitor berukuran besar. Resolusi yang lebih tinggi membuat desktop Anda menjadi lebih luas dan dapat menampilkan lebih banyakobjek, tanpa harus menggeser scroll bar. Monitor 17” merupakan syarat minimal. Saran CHIP, monitor 21” dengan resolusi 1600x1200 merupakan pasangan ideal. Penggunaan LCD relative tidak disarankan. Selain harganya yang relatif mahal, LCD juga memiliki masalah dengan tampilan pada derajat pandang berbeda. Pencahayaan dan warna pada LCD juga sedikit banyak berbeda dibandingkan monitor CRT atau TV biasa, sehingga tampilan yang Anda lihat optimal di LCD, belum tentu sama saat dioutput ke CRT atau TV. LCD unggul di sisi ketajaman gambar, sehingga lebih cocok untuk aplikasi teknik seperti CAD. Kalau Anda perhatikan, studio video profesional juga jarang yang menggunakan LCD. Kebutuhan lain seperti CD/DVD burner, serta media penyimpanan eksternal untuk backup seperti Tape dan Jazz/ZIP drive, juga merupakan opsional yang menarik untuk menyimpan hasil karya Anda.

Mengenal capture card: Banyak pilihan tergantung selera
Di pasaran, ada sangat banyak sekali capture card. Mulai dari yang dikemas bersama dengan video card, TV tuner, stand alone capture card, sampai capture card yang dilengkapi dengan feature video editing realtime. Masing-masing capture card memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Capture card yang terintegrasi dengan video card dan TV tuner, serta jenis stand alone, biasanya memiliki harga yang relatif lebih terjangkau. Dengan harga di bawah US$ 150 Anda sudah bisa mendapatkan video card yang tergolong sangat baik, plus kemam kemampuan capturing video. Sementara TV tuner dan stand alone capture card, dapat dijumpai dengan harga di bawah US$ 50. Card-card seperti ini masih sangat memadai untuk capturing dari berbagai input video analog ke PC. Kualitas yang ditawarkan juga masih sangat memadai, karena umumnya mereka menggunakan chip dari produsen yang sama. Anda yang memiliki camcorder digital (DV), tidak bisa menggunakan card seperti di atas. Card di atas hanya memiliki konektor analog dan tidak akan optimal jika digunakan untuk sumber digital. Anda harus membeli lagi card dengan konektor digital. Card ini biasanya dikenal dengan nama card FireWire. FireWire adalah sebuah interface layaknya USB. Namun, FireWire menawarkan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan USB. Card ini harganya relatif terjangkau dan bisa digunakan untuk device apa saja, asalkan mendukung interface ini. Beberapa motherboard terbaru dan sound card juga sudah ada yang memiliki feature ini. Card lain yang tergolong kelas atas (di atas US$ 500), biasanya menawarkan feature editing dan penambahan efek/ transisi realtime. Anda dapat dengan mudah menambahkan efek-efek yang diinginkan, tanpa harus melakukan rendering ulang. Semua proses ini dilakukan oleh hardware terintegrasi dalam card tersebut. Ini sangat menyenangkan, terutama bagi para professional yang harus bergelut dengan banyaknya efek dan transisi. Proses rendering ulang akan sangat menyita waktu. Kemampuan dari card ini tentunya akan sangat membantumereka, walaupun harus dibayar dengan harga yang cukup tinggi. Semakin banyak efek yang ingin Anda tampilkan secara realtime, maka kebutuhan hardware yang harus disediakan juga semakin tinggi. Card ini juga biasanya memiliki konektor yang sangat lengkap, mulai dari analog sampai digital. Bahkan, beberapa diantaranya menyediakan breakout boxtambahan untuk menampung konektorkonektor ini. Berikut ini, CHIP berkesempatan untuk mencoba beberapa card video capturing/ editing.

Canopus DVStormSE:
Card dari Canopus ini memiliki desain yang sedikit unik. Berbeda dengan card sejenis yang memiliki ukuran board yang panjang, Canopus
memilih untuk menggunakan dua buah card yang di-stacked. Penggunaan cara ini menjadikan ukuran card ini hanya sedikit lebih panjang dari card ekpansi umumnya. Paket yang disediakan oleh Canopus sangat lengkap. Kabel-kabel analog, termasuk 2 buah kabel Firewire juga disediakan.Canopus juga menyediakan DVStorm software set yang berisi DVStorm software, Boris Graffiti LTD, Sonic Foundry, ACID Style, dan Spruce Tech trial. Canopus juga menyediakan breaoutbox sebagai opsional. Di bagian belakang card ini, Anda akan menemukan konektor S-Video In dan Out, konektor audio 1/8” In dan Out, serta sebuah konektor DV. Jadi, DVStormSE tampaknya bisa memenuhi kebutuhan interkoneksi analog maupun digital. Proses instalasi dari card ini berlangsung dengan mudah. Software pendukung juga dapat di-install dengan baik, tanpa masalah.Canopus menyediakan satu paket software untuk capturing device analog maupun DV, yang cukup mudah untuk digunakan. Selain menggunakan aplikasi DVStorm, Anda juga bias menggunakan Adobe Premiere yang merupakan aplikasi editing populer. Kualitas capturing-nya juga baik.Hasil capture akan disimpan ke dalam format AVI ataupun DVC. Anda yang belum familiar dengan video editing, Canopus telah menyediakan bundle buku panduan yang cukup tebal. Rasanya, buku tersebut akan memberikan informasi yang lebih dari cukup untuk memulai video pertama Anda. Canopus DVStormSE juga termasuk card Non Linear Editing (NLE) dengan kemampuan untuk menambahkan transisi/ efek secara realtime. Namun, kemampuan untuk menampilkan transisi secara realtime tergantung dari kemampuan komputer yang digunakan. Semakin tinggi prosesor dan memori yang digunakan, maka efek filter dan transisi yang digunakan bisa semakin banyak. Sebagai contoh, untuk menambahkan filter Noise secara realtime hanya dibutuhkan prosesor 500 MHz, sedangkan efek Chroma Key baru bisa ditampilkan secara realtime dengan prosesor dual 700 MHz. Intinya, semakin tinggi prosesor Anda, maka semakin banyak pula transisi dan filter yang bias digunakan secara realtime.

Pinnacle Pro-ONE: 
Pinnacle merupakan salah satu produsen video editing yang cukup populer. Mereka memiliki line-up produk dengan pilihan harga dan kemampuan yang cukup lengkap dan bervariasi. CHIP berkesempatan mencoba seri Pro-ONE dari Pinnacle. Card ini berukuran cukup panjang dengan sederetan chipset. Bahkan, salah satu chipsetnya dilengkapi juga dengan heatsink. Di bagian belakangnya, Anda akan menemukan dua buah konektor Firewire, sebuah konektor stereo 1/8” untuk audio-out, serta sebuah konektor ke breakout-box yang disediakan. Breakout-box nya memiliki konektor RCA In dan Out untuk video, serta untuk audio kanal kanan dan kiri. Dua buah konektor S-Video untuk in dan out juga disediakan untuk mendapatkan kualitas transfer yang lebih baik. Pro-ONE juga memiliki sebuah port Firewire ekstra di board-nya. Pinnacle tampaknya juga sudah mulai bergeser ke arah DVD. Ini terbukti dengan cukup banyaknya title software untuk authoring DVD. Jadi, hasil editing Anda dapat dieskpor ke platform DVD yang tentunya memiliki kualitas lebih baik. Software efek Hollywood FX, Title Deko, DVTools dan Impression, merupakan paket unggulan yang memudahkan Anda untuk menjadikan video Anda tampak lebih profesional. Tambahan Photoshop LE juga menjadi nilai lebih dari produk Pinnacle ini. Proses instalasi berlangsung dengan mudah. Ukuran card yang cukup panjang mungkin akan sedikit mengganggu, jika digunakan pada casing yang tidak standar. Pastikan casing cukup panjang untuk card ini. Software yang disediakan juga sangat menarik. Software Impression yang disediakan tentunya akan sangat membantu Anda untuk authoring DVD. Pemakai profesional mungkin lebih melirik ke bundle Adobe Premiere 6.0 dengan SmartSound Quicktracks untuk efek suara tambahan. Efek-efek yang disediakan dapat diakses dengan mudah menggunakan Premiere. Efek yang dapat ditampilkan secara realtime juga tergantung kemampuan komputer yang digunakan. Beberapa efek dapat dilakukan secara realtime, beberapa lagi harus di-render terlebih dahulu. Pro- ONE juga menyediakan buku panduan penggunaan, termasuk buku manual Premiere 6.0.

Pinnacle Studio DC10plus:
Camcorder jenis digital memang semakin populer, namun tidak semua orang memiliki cukup banyak uang untuk sekedar membeli sesuatu yang berbau digital. Bagi kebanyakan orang, kualitas rekaman analog masih tergolong lumayan baik jika digunakan untuk sekedar dokumentasi. Salah satu card dari Pinnacle yang dikhususkan untuk capturing analog adalah Studio DC10plus. Card yang satu ini memang dikhususkan untuk digunakan dengan camcorder analog. Ukuran card ini tergolong kecil dan sederhana. Studio DC10plus menggunakan chip dari Philips dan Zoran untuk proses melakukan capturing dan editing sederhana. Kedua produsen di atas memang terkenal memiliki chip untuk pengolahan video yang baik. Di bagian belakang, Anda akan menemukan konektor S-Video dan RCA untuk input dan output video. Sebuah sound card akan dibutuhkan untuk menangkap suara karena card ini tidak memiliki input/output audio. Studio DC10plus merupakan card yang menggunakan teknik kompresi M-JPEG yang memiliki tingkat kompresi sampai 3.5:1. Proses instalasi berjalan dengan mudah menggunakan sebuah CD instalasi yang disediakan.Manual yang disediakan juga cukup baik dan informatif. Software editing Studio 7 dari Pinnacle juga cukup mudah digunakan, walaupun tidak secanggih Premiere. Fungsi yang ada dirasakan cukup memadai untuk kategori basic editing. Card ini mendukung system operasi Windows 98, SE, dan ME, namun untuk Windows 2000 atau XP, sebaiknya Anda mencari informasi tambahan dari site Pinnacle.

ATI All-In-Wonder RADEON:
Memasang banyak card dalam sebuah PC memang terkadang menyulitkan. Kombinasi VGA card, TV Tuner, dan video capture card sangat potensial menghasilkan konflik pada sebuah PC. Masing-masing saling berebut sumber daya. Bila Anda ingin menghadirkan solusi VGA, TV Tuner dan capture card dalam satu card saja, ATI menyediakan solusinya dalam All-In-Wonder RADEON. ATI menggabungkan chip VGA, TV Tuner dan capture. Jadi,Anda tidak perlu membeli ketiga jenis card tersebut. Dikemasdalam interface AGP, tentu akan lebih mudah diinstall, dibandingkan pemasangan ketiga card secara terpisah. Kualitas VGA dengan memori 32 MB memang cukup baik untuk digunakan. ATI juga menggunakan konektor DVI (disediakan konverter ke konektor VGA biasa). Konektor DVI ini sangat berperan untuk menghasilkan kualitas optimal dengan monitor LCD. Kemampuan tuner- nya juga baik (menggunakan antenna tambahan ataupun CATV). ATI menggunakan chip buatan sendiri yaitu ATI Rage Theater untuk proses audio/ video. Software yang disediakan juga sangat menarik. ATI Multimedia Centermengemas semua kemampuan card ini dalam satu interface yang mudah digunakan. Software ini juga mampu menangkap siaran TV dan merekamnya ke dalam format AVI, bahkan MPEG secara realtime. Hal ini dapat dilakukan jika spesifikasi komputer Anda cukup memadai. Berbagai setting kompresi yang disediakan juga dapat dipilih sesuai dengan kemampuan komputer yang digunakan. Card ini juga memiliki kemampuan hardware IDCT dan motion compensation untuk decoding MPEG-2. Hasilnya, kualitas playback akan lebih baik dan beban prosesor yang digunakan lebih rendah.ATI juga menyediakan berbagai kabel untuk input/output S-Video dan RCA.

Snazzi* III USB2 DVD Mill:
Perangkat video editing tidak selalu harus berupa card. Perangkat dari Snazzi* ini merupakan sebuah boks yang dikoneksikan ke PC via port USB 2.0. DVD Mill memiliki dua pilihan input, yaitu input 1 dan input 2. Input 1 memiliki konektor RCA dan SVideo, sementara input 2 hanya memiliki input RCA. Masing-masing tipe input tadi juga dilengkapi dengan input stereo RCA. Beberapa lampu indikator yang disediakan akan memberikan informasi

Video Editing: Masih (Sangat) Mahal ?
Setelah mencoba bermain- main dengan beberapa card video editing, mulai dari yang hanya sekedar “memberikan” chip Firewire untuk transfer dari DV, sampai yang memiliki efek transisi realtime, CHIP dapat menarik beberapa kesimpulan yang mungkin berguna bagi Anda. Anda yang serius dengan video editing, mungkin akan menganggap bahwa video editing merupakan sesuatu yang mahal. Prinsip itu berlaku sampai saat ini. Janganlah berharap mendapatkan kualitas terbaik dan profesional dengan konfigurasi sistem dan jenis card yang sederhana. Proses editing sendiri sudah sangat dimudahkan dengan penggunaan komputer. Non-Linear Editing tampaknya telah menjadikan proses editing video semudah melakukan “cut” dan “paste”. Namun, tetap saja kreativitas menjadi kunci utama dalam membuat sebuah video yang menarik untuk disaksikan. Setiap card biasanya menyediakan software tersendiri untuk melakukan editing. Software ini biasanya unggul dalam hal kemudahan penggunaan (biasanya didukung dengan tutorial singkat yang disertakan sebagai bagian dari bundel software). Pemakai profesional mungkin akan lebih memilih untuk menggunakan Adobe Premiere. Paket software editing yang dapat dikatakan terbaik ini, biasanya tersedia sebagai bundle pada card editing high-end dengan sedikit tambahan harga. Kreativitas Anda juga tidak ada artinya tanpa penguasaan software yang baik. Jika Anda membeli software original, biasanya tersedia buku manual penggunaan yang cukup informatif. Buku ini biasanya cukup memadai sebagai panduan awal, namun untuk mengembangkan kemampuan lebih lanjut, tambahan buku panduan yang biasanya dibuat oleh para ahli di bidang video akan menambah wawasan Anda. Biasanya, buku-buku tersebut membahas efek-efek yang dapat langsung dipraktekan dan umum digunakan. Semua hal di atas memang menjadikan video editing menjadi sangat mahal, tapi tepukan penonton yang salut dan kagum atas hasil karya Anda mungkin menjadi balasan yang sangat layak untuk hasil jerih payah Anda.

Video Editing: Masih (Sangat) Mahal?
status dari perangkat ini. Interface USB yang digunakan juga memudahkan instalasi. Software yang disediakan juga tergolong lengkap. Beberapa yang cukup menarik adalah PowerDirector, Nero, Ulead Cool 3D, Ulead Video Studio, dan Snazzi* DVD. Di samping software di atas, masih ada lagi beberapa software yang cukup menarik untuk dicoba. Paket penjualannya juga menyertakan kabel S-Video, RCA dan RCA-stereo 1/8”. Snazzi* juga menyediakan buku manual berisi tutorial singkat langkah demi langkah untuk membuat video dari berbagai sumber. Rasanya, petunjuk yang disediakan sudah lebih dari cukup. Selain itu, Snazzi* juga menggunakan software tersediri yaitu Movie Mill. Movie Mill memiliki user interface yang relatif mudah digunakan untuk memulai proses capturing pertama Anda. DVD Mill ini mendukung format MPEG-1 dan MPEG-2. Total video rate yang didukung mencapai 10 Mbps untuk MPEG-2. Sayangnya, DVD Mill tidak menyertakan
tambahan konektor DV. Pemakai DV mungkin akan sedikit kecewa, karena tidak dapat memperoleh hasil maksimal.

Dazzle* DV-Editor SE:
Card yang satu ini tidak lain adalah sebuah card PCI untuk menambahkan feature Firewire di PC Anda. Dengan adanya card ini, maka PC Anda akan dapat dikoneksikan ke camcorder DV. Ukuran card ini sendiri tergolong cukup kecil, maklum karena isinya memang hanya sebuah chip controller IEEE1394. Dua buah konektor Firewire tersedia di bracket dari card ini. Proses instalasi dari card ini juga tergolong sangat mudah. Setelah memasang card ini di slot PCI kosong dan menginstall driver yang diperlukan, maka card ini sudah siap dikoneksikan ke camcorder DV Anda dengan sebuah kabel Firewire yang memang sudah disediakan. Anda juga perlu menginstall bundle software Ulead VideoStudio 4.0 yang disertakan. Dazzle* juga menyediakan sebuah manual yang cukup informatif. Manual ini tidak hanya menerangkan mengenai software Ulead VideoStudio, melainkan juga sedikit pengetahuan dasar mengenai video digital. Secara keseluruhan, bisa dikatakan card ini hanyalah sebuah card Firewire yang digabungkan dengan manual dan bundle software editing video. Artinya, Anda tidak akan menemui konektor analog di card ini. Card ini juga sangat cocok jika Anda hanya memiliki camcorder DV dan tidak berkeinginan untuk memindahkan video secara analog di masa depan.
Sumber : PC CHIP

KAMERA VIDEO

Share


oleh : Budi Satriawan ( Etnorefika )

Seringkali kita dibuat takjub, terperangah, dan terbawa emosi kita hanya dengan melihat tayangan gambar di televisi atau di film-film. Gambar dan suara yang ditampilkan telah tersusun rapi dan sarat informasi sehingga mampu mempengaruhi emosi penonton. Untuk menghasilkan sebuah gambar film yang baik sudah barang tentu berkaitan dengan cara pengambilan gambar dan proses editingnya

Setiap orang bisa membuat karya film video asalkan tahu dan paham proses pembuatannya dan cara-cara penggunaan peralatannya. Asalkan ada kemauan dan peralatan tidak susah untuk mempelajarinya. Apalagi saat ini kamera video sudah bukan barang asing lagi. Dalam lingkup keluarga pun sudah dikenal handycam, peralatan sederhana yang sudah dipenuhi beberapa fasilitas.

Pertama kali yang perlu kita ketahui untuk pengambilan gambar adalah pengenalan terhadap kamera. Kamera merupakan salah satu bagian penting dalam sebuah pengambilan gambar. Tanpa menyepelekan bagian yang lain, tanpa kamera sebuah produksi tidak bisa berjalan, karena di kamera inilah gambar dan suara direkam ke dalam film atau pita video.

Ada berbagai macam jenis kamera yang beredar, mulai dari kamera handycam sampai kamera professional broadcast. Kamera handycam disebut juga kamera keluarga karena lebih banyak digunakan untuk kepentingan keluarga dan pengoperasiannya juga mudah, meskipun ada beberapa jenis handycam yang bisa digunakan untuk kualitas broadcast (seperti : Sony seri DSR DVCam dan Canon XL-1). Sedangkan kamera professional dipakai oleh seorang yang professional dibidangnya, karena penggunaannya perlu beberapa ketrampilan dan pengetahuan khusus tentang fasilitas kamera itu sendiri.

Kamera handycam ada beberapa jenis sesuai dengan format kasetnya :


> Video 8
> Hi-8
> Digital 8
> VHS-C
> S-VHS-C
> Mini DV
> DVCam

Kamera Professional Broadcast juga ada beberapa jenis :

> Hi-8 Pro
> S-VHS
> U-matic
> Betacam
> DVCPro/DVCam
> Digital-9
> Digital Betacam
Masing-masing jenis kamera mempunyai kelas yang berbeda sesuai kebutuhannya, namun fungsi dan pengoperasiannya tidak jauh berbeda, hanya mungkin fasilitas dan kualitas hasil rekamannya yang berbeda.

Pada dasarnya setiap kamera terdiri dari tiga bagian utama, yaitu :
1. Lensa
2. Tubuh Kamera
3. Recorder/VCR

1. LENSA
Lensa mempunyai fungsi untuk memilih bidang pandang tertentu dan ditangkap secara optik yang menghasilkan gambar dan diteruskan ke permukaan tabung kamera (yang nantinya oleh tabung kamera diubah lagi dari optik ke elektrik).
Ada beberapa jenis lensa menurut panjang fokalnya. Panjang fokal adalah jarak antara pusat optik lensa dengan titik di mana gambar terlihat dalam keadaan focus.

Ada beberapa jenis lensa, yaitu :

> Lensa Normal
Lensa ini sering disebut dengan lensa standart. Gambar yang dihasilkan dengan lensa normal ini memberi kesan yang biasa dan datar. Tidak ada efek distorsi atau melengkung.
> Lensa Wide/Sudut Lebar
Disebut lensa sudut lebar karena jangkauan dari subyek yang bisa ditangkap oleh lensa cukup lebar, sebagai gambaran dengan menggunakan lensa sudut lebar, kita tidak perlu mundur mengambil jarak karena ada beberapa bagian yang tidak tertangkap lensa, terutama pada pengambilan gambar grup shot, arsitektur, keramaian sebuah pasar, dan lain-lain.
> Lensa Tele
Lensa dengan focal length yang panjang, bila menggunakan lensa ini subyek jadi terasa dekat sehingga kedalam menjadi kurang, keuntungannya kita bisa merekam gambar dari jarak cukup jauh tetapi dapat menghasilkan gambar seperti kalau kita dari jarak dekat. Selain itu penggunaan tele lens memberikan keuntungan pada kita akan ruang tajam yang sempit, sehingga kita dengan leluasa bisa melokalisir subyek, sementara yang lainnya akan terlihat blur. Kerugiannya disamping kedalam kurang, sedikit saja goyangannya pada kamera akan terlihat sekali dari hasil rekamannya, biarpun kita sudah memperoleh focus yang maksimal. Untuk menghindari goyangan kamera, kita bisa menggunakan tripod atau monopod.
> Lensa Macro
Lensa ini sangat baik digunakan untuk merekam benda-benda kecil, seperti capung, serangga, buah yang kecil-kecil. Panjang fokal lensa macro antara 55-105 mm, tetapi didalam lensa macro (beda dengan lensa biasanya) ditambah beberapa jenis lensa sehingga kita bisa merekam gambar dari jarak dekat sekali, dan perbandingan antara subyek dengan yang ditangkap oleh lensa bisa mencapai 1:1.
> Lensa Vario/Zoom
Lensa jenis ini merupakan penggabungan dari lensa sudut lebar sampai ke lensa tele. Jadi kita tidak perlu lagi mengganti lensa, cukup satu lensa sudah mencakup semua jenis lensa : lensa normal, lensa wide, lensa tele, dan lensa macro. Pada umumnya kamera video sudah dilengkapi dengan lensa zoom.

FOKUS
Secara sederhana kita artikan saja ketajaman dari suatu titik ataupun benda yang kita lihat dengan mata telanjang. Begitu juga bila mata kita melihat sebuah benda melalui viewfinder kamera, maka benda yang tampak di viewfinder tersebut mungkin tajam, mungkin pula tidak. Untuk mengatur agar benda yang kita lihat malalui viewfinder nampak tajam, kita harus mengatur focus dengan cara memutar gelang pengatur jarak yang ada pada lensa.

F-STOP, DIAFRAGMA
F-stop adalah bilangan yang menunjukkan perbandingan antara panjang fokal dengan diameter lensa. Diafragma/Iris adalah bukaan lensa untuk menangkap sinar yang masuk. Semakin kecil angka f-stop, maka bukaan diafragma/irisnya semakin besar, dan sebaliknya semakin besar f-stop, bukaan diafragmanya semakin kecil. Pengaturan diafragma ini akan berkaitan pula dengan depth of field.

DEPTH OF FIELD
Yang dimaksud ruang tajam adalah ruang atau area pada foto semuanya akan terlihat tajam. Ruang tajam bisa kita atur sesuai dengan yang kita inginkan. Ruang tajam sangat dipengaruhi oleh seberapa besar aperture dibuka (besar bukaan diafragma), berapa milimeter panjang focal dari lensa yang digunakan, dan jarak lensa terhadap subyek yang akan dijepret. Semakin besar bukaan diafragma dan dengan kombinasi panjang focal lensa yang cukup panjang dan pengambilan dari jarak yang tidak terlalu dekat maka Depth of field menjadi sempit.

WHITE BALANCE
Salah satu kewajiban kita sebelum merekam gambar adalah harus mengeset white balance kamera terlebih dulu. Pada intinya televisi atau video menerima cahaya dari 3 warna primer RGB, red, green, dan blue. Bila ketiga warna ini dipadukan dalam perbandingan yang sama, maka akan menghasilkan warna cahaya putih. Warna putih inilah yang harus kita sesuaikan agar obyek putih benar-benar terlihat putih di lensa kamera. Padahal warna putih jika terkena cahaya warna lain sedikit saja akan berubah, seperti kekuning-kuningan atau kebiru-biruan. Jika di luar ruang/outdoor, maka warna yang ditangkap kamera video cenderung kebiru-biruan. Sedangkan di dalam ruangan/indoor cenderung kemerah-merahan.
Untuk itulah di beberapa kamera video dilengkapi filter koreksi warna dan white balance yang dipasang di antara lensa dan tabung kamera. Pada umumnya kamera video dilengkapi 2 filter koreksi untuk outdoor dan indoor. Tetapi ada juga yang dilengkapi 4 jenis filter koreksi warna.


2. TUBUH KAMERA
Tubuh kamera ini berisi tabung pengambil gambar (pick up tube) yang berfungsi untuk merubah gambar optik yang dihasilkan lensa menjadi sinyal elektrik. Di tubuh kamera ini biasanya juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas kamera, seperti white balance, steady shot, digital effect, shutter speed, dan lain-lain. Tergantung jenis kamera dan kebutuhannya.

VIEWFINDER
Viewfinder merupakan monitor kecil sebagai jendela pengamat kita untuk bisa melihat obyek yang masuk ke dalam kamera. Pada umumnya viewfinder ini hanya monitor hitam putih. Tetapi ada beberapa yang berwarna seperti Handycam Sony dan Canon XL-1.
Dalam viewfinder biasanya disertai informasi fasilitas dan indicator pada saat rekaman, seperti indicator posisi kamera record atau pause/stand by, white balance, iris, dan battery atau kaset habis dan lain sebagainya.

3. RECORDER/VCR
Salah satu bagian dari kamera adalah VCR (Video Casette Recorder) alat perekam gambar dan suara. Di beberapa kamera ada yang recordernya terpisah seperti jenis U-matic. Tetapi ada juga yang menjadi satu dengan bodi kamera. Kelebihan menjadi satunya bodi kamera dengan recorder adalah keringanan dan efisiensi waktu. Pekerjaan menjadi lebih mudah.

JENIS-JENIS SHOT
CU (Close Up)
Shot yang menampilkan dari batas bahu sampai atas kepala.
MCU (Medium Close Up)
Shot yang menampilkan sebatas dada sampai atas kepala.
* BCU (Big Close Up)
Shot yang menampilkan bagian tubuh atau benda tertentu sehingga tampak besar. Misal : wajah manusia sebatas dagu sampai dahi.
* ECU (Extrime Close Up)
Shot yang menampilkan detail obyek. Misalnya mata, hidung, atau telinga.
* MS (Medium Shot)
Shot yang menampilkan sebatas pinggang sampai atas kepala.
* TS (Total Shot)
Shot yang menampilkan keseluruhan obyek.
* ES (Establish Shot)
Shot yang menampilkan keseluruhan pemandangan atau suatu tempat untuk memberi orientasi tempat di mana peristiwa atau adegan itu terjadi.
* Two Shot
Shot yang menampilkan dua orang.
* OSS (Over Shoulder Shot)
Pengambilan gambar di mana kamera berada di belakang bahu salah satu pelaku, dan bahu si pelaku tampak atau kelihatan dalam frame. Obyek utama tampak menghadap kamera dengan latar depan bahu lawan main.

SUDUT PENGAMBILAN KAMERA

1. High Angle (Bird eye view)

Posisi kamera lebih tinggi dari obyek yang diambil.

2. Normal Angle
Posisi kamera sejajar dengan ketinggian mata obyek yang diambil.

3. Low Angle (Frog eye view)
Posisi kamera lebih rendah dari obyek yang diambil.

4. Obyektive Kamera
Tehnik pengambilan di mana kamera menyajikan sesuai dengan kenyataannya.

5. Subyektive Kamera
Tehnik pengambilan di mana kamera berusaha melibatkan penonton dalam peristiwa. Seolah-olah lensa kamera sebagai mata si penonton atau salah satu pelaku dalam adegan.

GERAKAN KAMERA

* Panning
Panning adalah gerakan kamera secara horizontal (posisi kamera tetap di tempat) dari kiri ke kanan atau sebaliknya.

Pan right : gerak kamera mendatar dari kiri ke kanan.
Pan left : gerak kamera mendatar dari kanan ke kiri.

* Tilting
Tilting adalah gerakan kamera secara vertikal (posisi kamera tetap di tempat) dari atas ke bawah atau sebaliknya.

Tilt up : gerak kamera secara vertikal dari bawah ke atas.
Tilt down : gerak kamera secara vertikal dari atas ke bawah.

* Tracking
Track adalah gerakan kamera mendekati atau menjauhi obyek.
Track in : gerak kamera mendekati obyek
Track out : gerak kamera menjauhi obyek

KOMPOSISI
Walking space dan Looking space
Dalam mengatur komposisi ketika kita mengambil gambar benda atau orang berjalan perlu diperhatikan ada ruang di depan benda itu sesuai arah hadap benda atau orang tersebut.

Head space
Komposisi ruang di atas kepala obyek atau suatu benda.

In (arrive/kedatangan) dan Out (go/kepergian)
Komposisi gambar yang menunjukkan bahwa suatu obyek itu bergerak mendekat atau menjauh.

Potongan Kencana
Dalam melakukan framing pada manusia perlu diperhatikan jangan sampai memotong gambar pada persendian. Jika hal itu terjadi seakan-akan obyek manusia yang kita ambil terpenggal, terpotong tepat pada persendian. Misalnya penggal leher, pergelangan tangan, siku, atau lutut. Agar tidak terkesan terpenggal ambil framing diantara persendian. Misalnya tangan di antara siku dan pergelangan tangan.

Rule of Third
Konsep ini hanya sebagai patokan dalam membuat komposisi. Andaikan layar monitor dianggap sebagai satu bidang persegi yang terbagi dalam 3 bagian.

GARIS IMAGINER
Garis imaginer digunakan untuk memberi batas posisi kamera dalam mengambil gambar agar tidak jumping dan menjaga kontinyuitas gambar. Gampangnya kita bayangkan garis lurus yang memisahkan kiri dan kanan. Apabila kita meletakan kamera posisi di sebelah kanan, maka untuk pengambilan berikutnya (apalagi jika kamera tidak hanya satu) juga harus mengambil dari posisi sebelah kanan. Begitu juga sebaliknya. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar